BAGI kalangan etnis Batak, jenderal yang lahir di Sigompulon, Tarutung, 4 September 1940, ini, adalah personifikasi nilai-nilai ideal Bangso Batak; yang meliputi daya juang, kecerdasan, keberanian, taat azas, integritas, dan solidaritas. Namun sebaliknya pula, dalam memori kolektif halak hita, Sintong juga merupakan "simbol kekalahan" etnis Batak di kancah nasional-sejak dekade 90-an hingga sekarang.
Ketika Sintong divonis bersalah atas terjadinya Insiden Dili pada 12 November 1991, bisa dipastikan banyak orang Batak menangis dalam hati; meski tak punya hubungan kekerabatan atau ikatan kepentingan dengan sang hero. Patahnya karir yang demikian cemerlang; berhentinya rentetan prestasi dan kepahlawanan yang tanpa tandingan sepanjang sejarah Orde Baru; adalah pukulan yang menyakitkan dan menggoyahkan kepercayaan diri halak hita di seluruh Indonesia.
Pendek kata, dipecatnya Sintong sebagai Pangdam Udayana; dan keputusan Dewan Kehormatan ABRI yang melarangnya menduduki jabatan komando untuk selamanya; tidak hanya memutus karir Sintong yang jauh-jauh hari sudah diprediksi oleh para seniornya bakal menduduki jabatan puncak : panglima TNI. Bagi kebanyakan orang Batak yang berkarir di pemerintahan pada masa itu, tragedi pribadi Sintong di dunia militer merupakan warning, bahwa nasib yang sama segera menimpa mereka.
Dan kini, sebagian besar halak hita mungkin sudah melupakan detil peristiwa itu, sambil terus bertanya-tanya dalam hati mengenai nasib Sintong setelah karir militernya "diamputasi". Namun cerita sedih "de-Batakisasi" yang mematikan karir ribuan orang Batak di berbagai instansi di republik ini, masih sering dituturkan dengan nada getir di kalangan Bangso Batak hingga saat ini.
* * *
SELAIN setia kawan, tentara berkumis lebat ini pun ternyata cukup religius. Setiap kali akan melaksanakan operasi berbahaya, Sintong selalu berdoa dan melakukan ritual dengan caranya sendiri. Dalam peristiwa pembebasan sandera di Don Muang, yang membuat reputasi Indonesia melambung berkat keberhasilan melumpuhkan para teroris hanya dalam waktu 3 menit, Sintong selaku komandan pasukan penyerbu lebih dulu berdoa di bawah pesawat; sambil meletakkan tangan di roda DC-9 milik Garuda itu.
Kalau boleh disimpulkan secara ringkas, perjalanan karir Sintong sebagai prajurit-yang terentang panjang selama 30 tahun-adalah implementasi yang sempurna dari nilai-nilai utama Bangso Batak. Dalam versi kontemporer, suami dari Lentina boru Napitupulu ini adalah seorang batak keren.
Mau bukti ? Pada akhir tahun 1959, sebagaimana dituturkan dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO, Sintong mengikuti tes masuk Akademi Angkatan Udara. Dia lulus bersama tiga orang lain di antara semua pelamar dari Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Namun, untuk dapat bergabung dengan AURI, amandelnya harus dioperasi lebih dulu.
Sintong, yang merasa sangat sehat, kurang puas dengan adanya persyaratan tersebut. Lantas dia berusaha menemui Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Suryadarma. Tentu saja, dia diusir oleh petugas jaga di gerbang Markas Besar Angkatan Udara. Tapi, dia tak menyerah. Akhirnya, pada kedatangan yang ketiga, Sintong diterima oleh KSAU. Keren kan ? Itulah jugul berkonotasi positif, keberanian dan kegigihan khas Batak yang bersumber dari prinsip : berani karena benar; dan bertumpu pada sifat khusus etnis Batak yang tak mengenal budaya feodal.
* * *
GARA-GARA sifat kebatakannya yang kelewat kental semacam itu, Sintong pernah kena batunya. Ceritanya, sekitar tahun 1990 Soeharto akan melakukan kunjungan incognito ke Bali, sekalian merayakan ulang tahun pernikahannya di Istana Tampak Siring. Selaku Pangdam Udayana ketika itu, Sintong sudah mendapat surat pemberitahuan dari Istana Negara. Menurut kelaziman yang berlaku pada masa itu, pemberitahun tersebut harus dipahami sebagai perintah: berikan pelayanan kelas satu buat raja kita : Soeharto, dan keluarganya.
Namun, Sintong malah berangkat ke Timor Timur, karena sehari sebelum kedatangan rombongan Soeharto telah terjadi pertempuran antara TNI dan Fretilin di Gunung Matabean. Sintong bukan tidak menghargai Soeharto, namun menurutnya tugas negara jauh lebih penting dibanding menyenangkan hati sang diktator. Sebelum berangkat, dia menugaskan Brigjen TNI Herman Musakabe untuk menjemput Soeharto di Bandara Ngurah Rai.
Biarpun tindakan Sintong dibenarkan menurut prioritas tugas kenegaraan, namun berdasarkan etika feodal dan "budaya menjilat" yang tumbuh subur di sekeliling Soeharto, tindakan Pangdam Udayana itu adalah perbuatan mbalelo. Kejadian itu tidak luput dari perhatian Menteri Hankam LB Moerdani. "Hai Batak, kemana kau waktu itu ?"sergahnya. Lalu Sintong menceritakan keadaan sebenarnya, dan Benny-mentornya di pasukan elit itu-kontan tertawa.
Bagaimana reaksi Soeharto ?
***Tulisan ini adalah penggalan dari artikel dengan judul sama yang merupakan hak eksklusif situs TobaLover dot com. Dipublikasikan dalam rangka mempromosikan situs TobaLover dot com. Dilarang mengutip artikel ini tanpa izin tertulis dari TobaLover dot com.
Ketika Sintong divonis bersalah atas terjadinya Insiden Dili pada 12 November 1991, bisa dipastikan banyak orang Batak menangis dalam hati; meski tak punya hubungan kekerabatan atau ikatan kepentingan dengan sang hero. Patahnya karir yang demikian cemerlang; berhentinya rentetan prestasi dan kepahlawanan yang tanpa tandingan sepanjang sejarah Orde Baru; adalah pukulan yang menyakitkan dan menggoyahkan kepercayaan diri halak hita di seluruh Indonesia.
Pendek kata, dipecatnya Sintong sebagai Pangdam Udayana; dan keputusan Dewan Kehormatan ABRI yang melarangnya menduduki jabatan komando untuk selamanya; tidak hanya memutus karir Sintong yang jauh-jauh hari sudah diprediksi oleh para seniornya bakal menduduki jabatan puncak : panglima TNI. Bagi kebanyakan orang Batak yang berkarir di pemerintahan pada masa itu, tragedi pribadi Sintong di dunia militer merupakan warning, bahwa nasib yang sama segera menimpa mereka.
Dan kini, sebagian besar halak hita mungkin sudah melupakan detil peristiwa itu, sambil terus bertanya-tanya dalam hati mengenai nasib Sintong setelah karir militernya "diamputasi". Namun cerita sedih "de-Batakisasi" yang mematikan karir ribuan orang Batak di berbagai instansi di republik ini, masih sering dituturkan dengan nada getir di kalangan Bangso Batak hingga saat ini.
* * *
SELAIN setia kawan, tentara berkumis lebat ini pun ternyata cukup religius. Setiap kali akan melaksanakan operasi berbahaya, Sintong selalu berdoa dan melakukan ritual dengan caranya sendiri. Dalam peristiwa pembebasan sandera di Don Muang, yang membuat reputasi Indonesia melambung berkat keberhasilan melumpuhkan para teroris hanya dalam waktu 3 menit, Sintong selaku komandan pasukan penyerbu lebih dulu berdoa di bawah pesawat; sambil meletakkan tangan di roda DC-9 milik Garuda itu.
Kalau boleh disimpulkan secara ringkas, perjalanan karir Sintong sebagai prajurit-yang terentang panjang selama 30 tahun-adalah implementasi yang sempurna dari nilai-nilai utama Bangso Batak. Dalam versi kontemporer, suami dari Lentina boru Napitupulu ini adalah seorang batak keren.
Mau bukti ? Pada akhir tahun 1959, sebagaimana dituturkan dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO, Sintong mengikuti tes masuk Akademi Angkatan Udara. Dia lulus bersama tiga orang lain di antara semua pelamar dari Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Namun, untuk dapat bergabung dengan AURI, amandelnya harus dioperasi lebih dulu.
Sintong, yang merasa sangat sehat, kurang puas dengan adanya persyaratan tersebut. Lantas dia berusaha menemui Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Suryadarma. Tentu saja, dia diusir oleh petugas jaga di gerbang Markas Besar Angkatan Udara. Tapi, dia tak menyerah. Akhirnya, pada kedatangan yang ketiga, Sintong diterima oleh KSAU. Keren kan ? Itulah jugul berkonotasi positif, keberanian dan kegigihan khas Batak yang bersumber dari prinsip : berani karena benar; dan bertumpu pada sifat khusus etnis Batak yang tak mengenal budaya feodal.
* * *
GARA-GARA sifat kebatakannya yang kelewat kental semacam itu, Sintong pernah kena batunya. Ceritanya, sekitar tahun 1990 Soeharto akan melakukan kunjungan incognito ke Bali, sekalian merayakan ulang tahun pernikahannya di Istana Tampak Siring. Selaku Pangdam Udayana ketika itu, Sintong sudah mendapat surat pemberitahuan dari Istana Negara. Menurut kelaziman yang berlaku pada masa itu, pemberitahun tersebut harus dipahami sebagai perintah: berikan pelayanan kelas satu buat raja kita : Soeharto, dan keluarganya.
Namun, Sintong malah berangkat ke Timor Timur, karena sehari sebelum kedatangan rombongan Soeharto telah terjadi pertempuran antara TNI dan Fretilin di Gunung Matabean. Sintong bukan tidak menghargai Soeharto, namun menurutnya tugas negara jauh lebih penting dibanding menyenangkan hati sang diktator. Sebelum berangkat, dia menugaskan Brigjen TNI Herman Musakabe untuk menjemput Soeharto di Bandara Ngurah Rai.
Biarpun tindakan Sintong dibenarkan menurut prioritas tugas kenegaraan, namun berdasarkan etika feodal dan "budaya menjilat" yang tumbuh subur di sekeliling Soeharto, tindakan Pangdam Udayana itu adalah perbuatan mbalelo. Kejadian itu tidak luput dari perhatian Menteri Hankam LB Moerdani. "Hai Batak, kemana kau waktu itu ?"sergahnya. Lalu Sintong menceritakan keadaan sebenarnya, dan Benny-mentornya di pasukan elit itu-kontan tertawa.
Bagaimana reaksi Soeharto ?
***Tulisan ini adalah penggalan dari artikel dengan judul sama yang merupakan hak eksklusif situs TobaLover dot com. Dipublikasikan dalam rangka mempromosikan situs TobaLover dot com. Dilarang mengutip artikel ini tanpa izin tertulis dari TobaLover dot com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar