Beranda

Jumat, 16 Desember 2011

ORANG BODOH VS ORANG PINTAR

Pero Luhut Sgr

 Orang bodoh sulit dapat kerja,akhirnya dia berbisnis.
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil  bosnya orang pintar adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja.

Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH) oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pinter percaya.
Orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu
Orang pintar berpikirkan panjang-panjang untuk membuat keputusan,
Walhasil orang pintar menjadi  staffnya orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang – orang pintar yang bekerja kepadanya.
Tapi orang-orang pintar demo,
Walhasil orang-orang pintar  meratap-ratap kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

Saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan pekerjaan.




Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.

Jadilah orang bodoh yang pintar dari pada jadi orang pintar yang bodoh.

Kata kunci nya adalah “Resiko” dan “Berusaha”, karena orang bodoh berpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resikonya betul-betul kecil.

Orang pintar berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh. ....

Tidak ada komentar: