Beranda

Jumat, 16 Desember 2011

SEBUAH PERENUNGAN DARI MASA LALU

Pero Luhut Sgr


Malam ini tidak seperti biasanya, di dalam angkot menuju rumahku. Aku melihat dengan mata batinku banyak sekali yang dapat ku ungkapkan,


Meskipun tampak aku tidak memperhatikan malah sebaliknya aku memperhatikan semuanya, aku melihat 2 orang bocah, diangkutan kota, ketika aku menatap mereka aku melihat kelelahan yang sangat dalam jiwa mereka,



Aku bersyukur kepada Tuhan setidaknya aku masih merasakan kebaikan dari kedua orangtuaku yang sering ku anggap wajar mereka lakukan dan mengangap kedua bocah itu kurang beruntung mendapatkan orangtua yang tidak bertanggung jawab, membiarkan bocah berumur 7-8 tahunan masih berkeliaran jam 1 malam, sementara anak2 seusia mereka sudah terlelap dalam mimpi,


lantas nuraniku bertanya

bagaimana aku bisa bersyukur hanya karena aku tidak mengalami seperti yang dialami dua bocah yang duduk didepanku, egois sekali rasa bersyukurku…


apa yang harus ku syukuri ? ketidakberuntungan mereka sehinga aku merasa beruntung?



Sementara disampingku ada dua orang pria yang dari tadi aku merasa aneh dengan canda tawa mereka, ketika aku memperhatikan dengan seksama ternyata mereka sepasang gay, bukannya aku membenci mereka hanya saja mereka membuatku sangat risih dengan canda tawa yang sangat vulgar di depan penumpang yang ada, semakin lama semakin risih aku melihat mereka, untunglah kepalaku masih dingin, kalau tidak….,


lantas aku berguman dalam hati kenapa Yang Kuasa menciptakan orang-orang seperti ini, terlalu penuh dengan kepalsuan, bersyukur aku tidak seperti mereka, kembali lagi nuraniku menegurku…


apa yang harus ku syukuri?


kenormalanku atas ketidaknormalan dua orang gay di depanku? mungkin saja selama ini aku yang palsu?


Kemudian ada pemabok tua yang kata seorang ibu tua yang juga menumpang angkot yang ku tumpangi, hampir setiap hari dia bertemu dengan pemabok tua tersebut, yang katanya orang batak, bagi ku orang batak atau tidak, pemabuk tetap seorang pemabuk. Dengan langkah sempoyongan dia pergi tanpa membayar ongkos,


Hemmmm...haruskah aku memanjatkan syukur lagi karena aku bukan seorang pemabuk? yang akan merasa hidup bila sudah setengah sadar? atau dalam kondisi nyata sebenarnya aku "mabuk" dengan kepentingan ku sendiri


Apa yang harus ku syukuri?


Karena aku memilih untuk menjadi bukan seorang pemabuk? Rasa syukur seperti apa itu ? seperti kesombongan bunyinya…


Kembali lagi aku perhatikan penumpang yang tersisa, tinggal tiga orang lagi, aku, seorang ibu tua dan seorang wanita muda, wanita muda ini mungkin penjaga klub malam atau seorang waiters, dalam hatiku seandainya mungkin ada pekerjaan lain tentu wanita muda ini tidak perlu sampai jam 1 malam masih dalam perjalanan pulang,


sedangkan ibu tua dengan beberapa keranjang belanjaan pun tak luput dari perhatianku, mungkin ibu tua itu habis berbelanja bahan masakan untuk warung makanannya, sungguh melelahkan pikirku, ibu ini harus menyiapkan masakan pagi-pagi buta, kapan ibu tua itu beristirahat?


Kali ini kukatakan kepada hatiku untuk berhenti bersyukur….


Apa yang harus kusyukuri ?


karena aku bisa memperhatikan mereka dan membuat penilaian berdasarkan kata hatiku?

Bagaimana kalau seandainya mereka juga berkata-kata tentang aku dalam hatinya, dan bersyukur karena keberuntungan mereka atas diriku?

Tinggalah aku seorang diri, dan terakhir yang kuamati adalah sang pengemudi angkot tersebut.

Dari aku naik sampai aku mau turun, dia mengembalikan uang dari dua anak kecil tersebut bahkan member beberapa lembar ribuan rupiah untuk dua anak tersebut
Betapa mulianya hatinya, kemudian ketika penumpang mabok tersebut turun tanpa membayar dia hanya tersenyum kecil
belum lagi mungkin dia akan berputar-putar sampai pagi hari untuk periuk nasi dirumahnya….

Lantas aku tersenyum,


hal inilah yang harus ku syukuri, bahwa masih ada teladan buatku di malam hari ini, yang menunjukan kebaikan hati dan semangat kerja keras,


aku bersyukur bahwa malam itu aku bisa belajar untuk bersyukur bukan untuk apa yang terjadi pada orang lain yang itu tidak terjadi pada diriku,

atau apa yang baik kualami dan apa yang tidak baik yang orang lain alami, karena baik atau tidak yang manusia alami sepenuhnya tergantung kepada Sang Maha Kuasa….

manusia seperti aku ini tinggal menjalani dan ketika aku harus bersyukur, aku lebih baik bersyukur untuk kebaikan yang diterima oleh orang lain di sekitarku…


(seberapa sering kita menangkap makna kasih karunia Tuhan dalam kesaharian kita yang Nampak “biasa” yang mengandung makna “luar biasa” mari merenung sejenak)

GBU

1 komentar:

m2m news mengatakan...

Nice and useful blog.I am very impressed from your blog.I will share your blog with my friends .Thanks for sharing and keep it up.
machine to machine